By: Bas. Sirait.
Bukan tidak mungkin dalam situasi !. Yang konon disebut demi perut sejengkal. Dilarang, namun dilanggar, dan ini sudah menjadi rahasia umum yang tak terbantahkan.
Di ujung kebun itu, tanah tak lagi sekadar tanah. Ia berlubang, keropos, dan menyimpan harapan yang rapuh. Lubang PETI—yang katanya membawa rezeki—menganga seperti janji yang tak pernah tertulis, tapi terus dipercaya.
Di sanalah orang-orang mempertaruhkan segalanya: tenaga, waktu, bahkan nyawa, demi sejumput emas yang belum tentu mereka bawa pulang.
PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) bukan sekadar aktivitas ilegal. Ia adalah potret ketimpangan yang telanjang. Ketika lapangan kerja formal makin menyempit, harga kebutuhan hidup melonjak, dan negara terasa jauh dari kebun-kebun kecil masyarakat, PETI hadir sebagai “jalan pintas”. Jalan yang gelap, berbahaya, tapi terasa lebih nyata daripada janji program bantuan yang sering berhenti di baliho.
Ironisnya, PETI selalu dikisahkan sebagai rezeki. Padahal, lebih sering ia berujung buntung. Banyak yang pulang dengan tangan kosong, tubuh rusak oleh merkuri, atau tak pernah pulang sama sekali karena tertimbun longsor.
Tapi kisah-kisah itu kalah nyaring dibanding satu cerita sukses: “si Pulan…dapat emas satu kilogram.” Cerita itu beredar cepat, menyulut keberanian semu, dan menutup mata pada risiko yang mengintai.
Di sinilah dilema itu hidup: antara beruntung dan buntung. Yang beruntung biasanya segelintir—cukong, pemodal, atau penadah. Yang buntung hampir selalu orang kebun itu sendiri: buruh tambang, pemilik lahan kecil, atau warga yang tak punya pilihan lain.
Mereka menanggung kerusakan lingkungan, konflik sosial, hingga kriminalisasi. Sementara keuntungan mengalir ke tangan yang jarang tersentuh hukum. Terkadang
Negara sering datang belakangan, membawa penertiban dan spanduk larangan. Tapi jarang membawa solusi yang benar-benar menjawab akar masalah.
Melarang tanpa memberi alternatif hanya memindahkan lubang—bukan menutupnya. Selama ketidakadilan ekonomi dibiarkan, selama pekerjaan layak tak tersedia, PETI akan terus menemukan jalannya sendiri, dari satu kebun ke kebun lain.
Lubang di ujung kebun itu sejatinya cermin. Ia memantulkan wajah kita semua: tentang bagaimana kemiskinan dipaksa bernegosiasi dengan risiko, bagaimana hukum berhadapan dengan perut, dan bagaimana “rezeki” dimaknai secara terpaksa.
Di antara buntung dan beruntung, yang paling sering kalah adalah manusia dan alamnya. Mungkin sudah waktunya kita berhenti sekadar menunjuk lubang, dan mulai menambal sebab-sebab yang membuat orang rela terjerembab ke dalamnya.
Kejadian di ujung kebun itu, merupakan tragedi memilukan, tertimbun longsor yang hanya membawa luka mendalam.
Akankah ada efek jera, atau justru masih terus berlanjut?. Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang.


