Dibalik Reuni: ” Cinta Tak Harus Memiliki “

banner 468x60

Cerpen;

By: Bas. Sirait

Malam itu suasana aula kecil di pinggiran kota terasa hangat. Tawa dan obrolan saling bersahutan. Spanduk sederhana bertuliskan “Reuni Angkatan 90-an” tergantung di dinding. Foto-foto lama masa sekolah terpajang di meja.

Bagi mereka yang hadir, waktu seolah berputar kembali ke puluhan tahun lalu. Saat seragam putih abu-abu masih melekat di tubuh, dan mimpi-mimpi masih terasa sederhana.

Kini semuanya telah berubah.

Ada yang datang dengan mobil mewah, ada yang bercerita tentang usaha yang berkembang, ada pula yang bangga menceritakan anak-anaknya yang sudah sekolah tinggi. Obrolan malam itu tak jauh dari kisah hidup, pekerjaan, keluarga, dan kesuksesan.

Di sudut ruangan, seorang perempuan bernama Bunga duduk sambil tersenyum kecil. Ia mendengarkan cerita teman-temannya sambil sesekali tertawa.

Di depannya duduk seorang lelaki, teman lamanya semasa sekolah.

Namanya Raka.

Dulu, ketika mereka masih remaja, ada sesuatu yang tak pernah terucap di antara keduanya. Rasa yang tumbuh diam-diam, namun tak pernah benar-benar berani diungkapkan.

Waktu membawa mereka ke jalan yang berbeda.

Bunga telah menikah dan memiliki dua orang anak.
Raka pun demikian, telah membangun rumah tangga dengan kehidupannya sendiri.

Namun malam itu, saat reuni

mempertemukan mereka kembali, ada sesuatu yang terasa aneh. Bukan cinta yang ingin dimiliki kembali, melainkan kenangan yang tiba-tiba hidup.

“Masih ingat waktu kita dimarahi guru matematika?” tanya Raka sambil tertawa.

Bunga ikut tertawa.
“Iya… gara-gara kamu menyontek tugasku.”

“Bukan menyontek… cuma melihat sedikit,” jawab Raka sambil mengangkat bahu.

Mereka tertawa kecil.

Di antara tawa itu, ada rasa yang dulu pernah tumbuh—namun kini hanya tinggal bayangan masa lalu.

Reuni memang aneh.

Ia seperti membuka kembali lembaran lama yang sudah lama disimpan. Kadang hanya untuk mengenang, kadang tanpa sadar membangkitkan perasaan yang pernah ada.

Suasana mendadak berubah ketika seorang pria datang dengan wajah tegang.

Ia adalah suami Bunga.

Langkahnya cepat mendekati meja tempat Bunga duduk.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” suaranya terdengar keras.

Bunga terkejut.
“Bang… ini cuma reuni.”

Suaminya menatap Raka dengan tajam.

“Kenapa harus duduk berdua dengan laki-laki?” katanya dengan nada penuh emosi.

Raka berdiri perlahan.
“Pak… ini hanya teman lama. Kami hanya berbincang.”

Namun emosi sudah terlanjur naik.

Beberapa teman mencoba menenangkan suasana. Tawa yang sebelumnya memenuhi ruangan kini berubah menjadi bisik-bisik dan kecanggungan.

Bunga menunduk. Wajahnya merah menahan malu.

Di tengah keributan kecil itu, Raka hanya terdiam.

Ia menatap Bunga sejenak, lalu tersenyum tipis.

Senyum yang penuh makna.

Senyum seseorang yang sadar bahwa hidup telah memilih jalannya masing-masing.

Tak semua rasa harus dimiliki.

Tak semua cinta harus kembali.

Kadang, cinta hanya cukup menjadi kenangan.

Reuni malam itu akhirnya berakhir dengan suasana yang berbeda. Banyak yang pulang sambil merenung.

Tentang masa lalu.

Tentang perasaan yang pernah ada.

Dan tentang kenyataan bahwa kehidupan sekarang jauh lebih penting daripada kenangan yang telah berlalu.

Karena pada akhirnya, cinta yang dewasa bukanlah tentang memiliki kembali apa yang dulu hilang.

Melainkan tentang menghargai apa yang telah dimiliki hari ini.

Dan di dalam hati Raka, ia mengerti satu hal sederhana:

Cinta pertama boleh saja tak pernah dimiliki.
Namun kenangannya akan selalu hidup, tanpa harus merusak kehidupan yang telah dibangun.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *