Muratara Sumsel, Indopubliknews.com
Pelayanan kelistrikan di Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, menuai keluhan warga. Tegangan listrik yang disebut jauh di bawah kondisi normal, disertai listrik yang kerap hidup-mati, membuat masyarakat resah. Tak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut juga dikeluhkan karena diduga menyebabkan kerusakan berbagai peralatan elektronik milik warga.
Warga menilai persoalan ini tidak bisa terus dibiarkan berlarut-larut. Pasalnya, listrik merupakan kebutuhan mendasar masyarakat, baik untuk keperluan rumah tangga maupun menunjang kegiatan usaha. Ketika pasokan listrik tidak stabil, masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan.
Salah seorang warga, Azwar, mengungkapkan bahwa tegangan listrik di wilayahnya kerap mengalami penurunan drastis, terutama pada malam hari.
Menurut Azwar, pada siang hari tegangan listrik hanya berkisar 170–190 volt. Sementara itu, pada malam hari kondisinya disebut semakin parah, bahkan turun hingga 110–150 volt.
“Kalau siang hari, voltasenya sekitar 170 volt, maksimal 190 volt. Itu masih agak mending dibandingkan malam hari yang malah parah, hanya 110–150 volt,” kata Azwar kepada wartawan Indopubliknews.com, Jumat (16/10/2026).
Kondisi tersebut, lanjut Azwar, membuat warga khawatir terhadap keamanan dan ketahanan peralatan elektronik di rumah mereka. Ia mengaku televisi miliknya telah rusak dan menyebut sejumlah warga lain juga mengalami kerusakan peralatan elektronik.
“TV di rumah itu sudah rusak, belum kulkas. Warga di dusun kami ini juga banyak yang peralatan elektroniknya rusak,” ungkapnya.
Ia menilai masyarakat dirugikan apabila harus terus-menerus menanggung risiko kerusakan barang elektronik akibat pasokan listrik yang tidak stabil.
“Bagaimana mau punya barang elektronik tahan lama, kalau listriknya sering jelek, mati-hidup terus,” imbuhnya dengan nada kesal.
Surat Sudah Disampaikan ke DPRD, Warga Pertanyakan Tindak Lanjut
Keluhan serupa juga disuarakan Dedi Irawan, perwakilan tokoh pemuda Rawas Ulu. Ia mengatakan bahwa surat usulan terkait persoalan kelistrikan tersebut telah disampaikan kepada DPRD Kabupaten Muratara. Namun, menurutnya, hingga kini warga masih menunggu kejelasan tindak lanjut atas pengaduan tersebut.
Dedi menyebutkan, surat usulan itu telah diajukan sekitar tiga minggu sebelumnya. Warga berharap DPRD dapat menindaklanjuti aspirasi tersebut dengan berkoordinasi bersama pihak PLN, termasuk mendorong pemeriksaan teknis atau survei langsung ke lokasi yang terdampak.
“Kami sudah menyampaikan surat usulan keluhan listrik PLN ke DPRD Kabupaten Muratara. Sekarang masih menunggu hasilnya dari DPRD dan pihak PLN. Semestinya harus ada pemeriksaan atau survei, tetapi sampai sekarang belum ada kabarnya,” ujar Dedi.
Ia juga meminta agar setiap laporan masyarakat mengenai gangguan kelistrikan ditanggapi secara cepat dan serius, terlebih jika gangguan tersebut berlangsung berulang kali dan berdampak terhadap kehidupan warga.
Menurut Dedi, masyarakat membutuhkan kepastian, bukan sekadar menunggu tanpa mengetahui kapan persoalan tersebut akan ditangani.
Ia mengaku kecewa karena surat yang telah disampaikan dan ditangani DPRD, menurut keterangannya, belum memberikan hasil yang diharapkan. Hingga berita ini disusun, warga mengaku belum memperoleh kepastian mengenai jadwal pemeriksaan maupun langkah perbaikan dari pihak terkait.
Jangan Biarkan Warga Terus Menanggung Kerugian
Persoalan tegangan listrik yang dikeluhkan warga Rawas Ulu kini menjadi pekerjaan rumah bagi pihak-pihak terkait. Warga membutuhkan penjelasan yang transparan mengenai penyebab penurunan tegangan, langkah penanganan yang akan dilakukan, serta kepastian waktu pemeriksaan di lapangan.
Apabila keluhan tersebut terus berulang tanpa penanganan yang jelas, masyarakat berpotensi terus menghadapi gangguan aktivitas dan risiko kerusakan peralatan elektronik.
Karena itu, DPRD Kabupaten Muratara diharapkan tidak berhenti pada penerimaan surat pengaduan, tetapi turut memastikan aspirasi warga ditindaklanjuti sesuai kewenangannya. Sementara itu, pihak PLN diharapkan segera memeriksa kondisi jaringan dan pasokan listrik di wilayah terdampak serta menyampaikan hasil pemeriksaan kepada masyarakat.
Warga tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan pelayanan listrik yang stabil, aman, dan layak sesuai standar yang berlaku.
Kini, pertanyaan yang menunggu jawaban adalah: kapan pihak PLN turun langsung memeriksa kondisi listrik di Rawas Ulu, dan kapan warga bisa menikmati pasokan listrik yang normal?
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak PLN maupun DPRD Kabupaten Muratara mengenai penyebab gangguan dan jadwal penanganan keluhan tersebut.
Redaksi Indopubliknews.com membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak terkait sesuai prinsip keberimbangan pemberitaan.(A.Rahman).







