By; B. A. Sirait.
Di negeri antah berantah, rakyat kembali diajari satu pelajaran lama:
bahwa pita peresmian ternyata lebih cepat dipotong dibanding kelengkapan administrasi diperiksa.
Sebuah pabrik megah berdiri. Katanya demi investasi. Demi lapangan kerja. Demi pertumbuhan ekonomi. Demi kesejahteraan rakyat. Kalimat-kalimat indah itu berhamburan di spanduk, baliho, hingga pidato-pidato seremonial yang penuh tepuk tangan.
Lalu penguasa datang meresmikan.
Foto-foto beredar. Senyum mengembang. Kamera menyala. Seolah semuanya sudah sempurna. Seolah negeri antah berantah sedang melangkah menuju kemajuan besar.
Namun beberapa waktu kemudian, rakyat justru mendengar kabar yang membuat dahi berkerut:
administrasi belum lengkap, operasional tidak sesuai dokumen, UKL-UPL dipersoalkan, lingkungan mulai dikeluhkan.
Dan lucunya, yang disalahkan pertama kali justru suara rakyat.
Padahal pertanyaan paling sederhana justru belum terjawab:
kalau memang administrasi belum lengkap, lalu dasar apa peresmian dilakukan?.
Bukankah penguasa memiliki perangkat, dinas, staf ahli, hingga punggawa-punggawa birokrasi yang tugasnya memastikan semuanya aman sebelum diresmikan?.
Atau jangan-jangan di negeri antah berantah, legalitas sekarang cukup dibuktikan dengan gunting pita dan foto bersama?.
Rakyat akhirnya dianggap ribut karena demo.
Padahal inti persoalan bukan pada teriakan massa.
Masalah sebenarnya adalah mengapa sesuatu yang belum sepenuhnya tuntas bisa tampil seolah sudah beres.
Ini yang membuat netizen geli sekaligus keki.
Sebab rakyat bukan anti investasi.
Rakyat juga bukan anti pembangunan.
Yang rakyat takutkan adalah ketika aturan hanya tajam kepada masyarakat kecil, tetapi menjadi lentur saat berhadapan dengan kepentingan besar.
Ketika warga membuka warung tanpa izin lengkap bisa ditegur cepat, namun proyek raksasa justru lebih dulu diresmikan baru kemudian dipertanyakan administrasinya.
Ironi macam apa ini?
Netizen pun mulai berpuisi liar:
“Ekaula muda punya tantangan…”
“Ekaula bau busuk…”
“Ekaula administrasi belum lengkap…”
“Ekaula bikin rakyat makin keki…”
Dan seperti biasa, di negeri antah berantah, rakyat hanya bisa tertawa getir sambil mengulang kalimat legendaris:
“Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang.”



